Minggu, 06 Mei 2012

Anatomi Sepak Bola: False Nine


Pertandingan persahabatan antara Inggris dan Hungaria di Stadion Wembley, 25 November 1953 adalah salah satu pertandingan paling penting dalam sejarah sepak bola Inggris. Pada pertandingan itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Inggris dikalahkan oleh tim non-Britania di kandang sendiri dan dampak yang terjadi lebih besar dari sekadar menelan rasa malu.

Inggris yang merasa dirinya aristokrat sepak bola terpana melihat bagaimana pola permainan kaku mereka diacak-acak oleh strategi pelatih Gusztav Sebes yang oleh seorang pemain Inggris disebut “bagaikan tim dari luar angkasa.”

Hungaria dipenuhi oleh legenda seperti Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Zoltan Czibor, tapi adalah pemain bernomor 9, Nandor Hidegkuti yang menyulut kekacauan di wilayah pertahanan Inggris. Lazimnya pemain bernomor 9 pada masanya, Hidegkuti dianggap sebagai penyerang tengah yang berfungsi sebagai finisher, tapi pergerakannya yang tak lazim mencengangkan barisan pertahanan Inggris.

Hidegkuti tidak berdiri statis di depan, tapi turun jauh hingga ke tengah lapangan untuk menjemput dan mendistribusikan bola, menyebabkan bek Harry Johnston yang ditugaskan pelatih Walter Winterbottom untuk menjaganya pusing tujuh keliling.

Hungaria mencetak empat gol di babak pertama dan Johnston dibuat frustrasi karena tak pernah menyentuh bola. Hidegkuti yang seharusnya ia kawal turun jauh ke tengah sehingga pemain Hungaria tersebut mempunyai banyak ruang untuk berkreasi.

Di babak kedua, Johnston ditugaskan untuk mengikuti pergerakan Hidegkuti jauh ke tengah dan yang terjadi dampaknya lebih dahsyat. Tertariknya satu bek ke luar menyebabkan lini pertahanan Inggris luluh lantak dan Puskas serta Kocsis dengan senang hati mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Johnston.

Hungaria menang 6-3 pada partai itu yang membuat Inggris tersadar untuk merevolusi paradigma sepak bolanya, tapi dalam partai itu Hidegkuti berperan dalam posisi yang sekarang populer dengan sebutanFalse Nine.

Secara definisi, False Nine diartikan sebagai penyerang terluar yang turun ke tengah untuk mengacaukan konsentrasi dan garis pertahanan lawan. False Nine haruslah orang terdepan dalam pola satu tim, karena jika tidak, maka posisi itu murni gelandang tengah biasa.

Penyerang legendaris Austria, Matthias Sindelar adalah salah satu pionir False Nine pada awal abad 20 dan berpuluh-puluh tahun sesudahnya, strategi ini berfungsi kembali.

False Nine menyebabkan tim yang menggunakannya terlihat bermain tanpa satu penyerang pun. Skuad Manchester United yang memenangi Premiership dan Champions League tahun 2008 memiliki Wayne Rooney dan Carlos Tevez yang satu pun tak gemar untuk berdiam diri di kotak penalti. Secara bergantian mereka akan bertukar posisi menjadi False Nine, seraya membuka ruang bagi satu sama lain dan Cristiano Ronaldo untuk muncul dari lini kedua.

Barcelona pun sering mempraktikkan strategi ini dengan Lionel Messi sebagai False Nine yang bertugas menerima bola di paruh lapangan untuk kemudian mengirimkannya kepada pemain di belakangnya yang merangsek ke depan. Menarik menyaksikan bagaimana kehadiran striker macam David Villa sekalipun tak membuat Messi tidak ditempatkan sebagai pemain terdepan.

False Nine adalah mimpi buruk bagi pertahanan karena sulit untuk diantisipasi. Sebuah keadaan yang dilematis bagi bek lawan untuk bertahan di posisi atau mengikuti pergerakan False Nine. Jika mengikuti pergerakan False Nine ke tengah, maka garis pertahanan akan menjadi tinggi dan rentan terhadap umpan terobosan ke sayap.

Jika bertahan di posisi, maka False Nine akan memiliki ruang untuk berpikir dan berkreasi, atau bahkan berlari melewati bek dan menembak. Menghadapi pemain yang mematikan dalam satu lawan satu seperti Messi dan Rooney, pilihan bertahan seperti ini adalah bencana.

Bermain melawan penyerang yang beroperasi di luar daerah alamiahnya telah menjadi beban pikiran para bek sejak tahun 90-an. Mereka tak serta merta bisa disebut False Nine, tapi Eric Cantona, Gianfranco Zola, dan Dennis Bergkamp adalah bukti bahwa para penyerang yang turun ke bawah tak mudah untuk dimatikan. Berdasarkan wilayah operasionalnya, beberapa tim mencoba untuk menugaskan seorang gelandang bertahan untuk mematikan False Nine.

Banyak orang menggarisbawahi betapa fenomenalnya Cheick Tiote saat mematikan Rooney saat Newcastle menang 3-0 atas United 2 pekan lalu, tapi Rooney sebenarnya tak menjadi False Nine saat itu karena ada Dimitar Berbatov di depannya.

Menugaskan seorang gelandang untuk mengawal False Nine sebenarnya bisa menyebabkan kecanggungan karena selain area pergerakannya tak sama (berlainan dengan bek yang bisa naik ke depan, seorang gelandang bertahan sekalipun tak lazim untuk bergerak hingga kotak penalti sendiri), hal ini potensial menyebabkan adanya ruang kosong yang bisa dieksploitasi lawan.

Penulis sepak bola ternama, Jonathan Wilson kerap mengatakan bahwa taktik sepak bola adalah seni memanipulasi ruang dan False Nine adalah salah satu bentuk manipulasi ruang yang teragung.

Man-marking tak lagi lazim di sepak bola level top sekarang ini ketika hampir semua tim menggunakan zona marking yang membagi lapangan menjadi beberapa area yang harus dijaga tim yang bertahan sehingga membuat sepak bola bagai ilmu pasti.

False Nine bisa sukses menjadi opsi karena posisinya di lapangan bagaikan anomali yang merusak rumus-rumus pertahanan tadi. Area yang harus dijaga untuk mematikan False Nine menjadi kabur dan siapa yang harus menjaga juga tak pasti sehingga membuat para bek bagaikan siswa elementer yang kebingungan.

Seperti yang ditulis Johnston dalam biografinya soal bagaimana ia dipermalukan Hidegkuti, ”The tragedy was the utter helplessness...being unable to do anything to alter the grim outlook.”

Anatomi Sepak Bola: Inverted Winger

Dulu sewaktu bermain sepak bola semasa kecil, pelatih tim sepak bola sekolah akan menanyakan para pemain sayap, kaki sebelah mana yang lebih kuat. Jika kaki kiri lebih kuat, maka ia akan bermain di sayap kiri. Jika kaki kanan lebih kuat, ia akan bermain di sayap kanan. Sepak bola dulu sesederhana itu dan evolusi taktik telah membuatnya sedikit lebih rumit.

Dalam formasi sepak bola klasik 4-4-2 yang sekarang hampir masuk museum, tugas pemain sayap adalah meneror pinggir lapangan dengan bola di kakinya dan melepaskan umpan silang yang akan ditunggu oleh salah satu penyerang di dalam kotak penalti.

Berkembangnya formasi dan meningkatnya kualitas pertahanan tidak hanya menyebabkan tugas pemain sayap lebih berat untuk melewatifullback yang menjaganya, tapi juga umpan silang tidak seefektif itu lagi, terlebih dengan tren satustriker yang mewabah dewasa ini.

Tipe striker jenis finisher yang hanya menunggu bola di dalam kotak penalti telah langka sekarang ini, digantikan oleh penyerang dengan mobilitas tinggi yang tidak hanya mau turun ke tengah dan kadang diposisikan sebagai false nine, tapi juga bermain sebagai wide forward yang bisa menyisir sayap.

Semua penyerang kelas dunia dari Lionel Messi hingga Wayne Rooney melakukannya. Keadaan ini menyebabkan pemain sayap tradisional yang hanya bergerak lateral di satu sisi dengan akselerasi tinggi tak punya ruang karena sudah diisi oleh penyerang. Di sinilah tren sayap baru tapi lama kembali bersemi, inverted winger.

Inverted winger adalah pemain sayap yang menempati sisi yang berlawanan dengan kaki favoritnya. Jika pemain sayap kanan tradisional kuat di kaki kanan, maka inverted winger di sisi kanan adalah pemain dengan kekuatan di kaki kiri.

Dengan kekuatan kaki yang berlawanan dengan sisi yang mereka tempati, maka umpan silang yang biasanya menjadi harapan dari sayap tradisional tak lagi jadi produk yang ditunggu.

Dalam mematikan pergerakan sayap tradisional, seorang fullback biasanya akan mematikan sisi luar (kaki terkuat) pemain sayap sehingga mereka tak bisa bergerak menuju kotak penalti untuk melepaskan umpan. Inverted winger menjadi susah untuk dikawal oleh fullback karena yang ingin mereka lakukan adalah memotong ke dalam dan menembak bila ada kesempatan. Hal ini dimungkinkan karena sisi terkuat inverted winger akan berhadapan dengan sisi terlemah fullback.

Contoh dari kesuksesan inverted winger di Premier League adalah Ashley Young dan Adam Johnson. Kaki utama Young adalah kaki kanan tapi ia bermain di sayap kiri. Tengok berapa kali Young berlari di sisi kiri sebelum mengecoh bek dengan memutar arah dan memotong ke dalam.

Demikian juga dengan Johnson yang beroperasi di sayap kanan dan tak jarang mencetak gol dengan memotong ke dalam dan menendang dengan kaki kiri. Arjen Robben dikenal sebagai pemain sayap dengan kaki kidal yang mematikan, tapi di Bayern Munich ia berjaya sebagai sayap kanan.

Tren inverted winger ini bukan barang yang sama sekali baru. Sejarah mencatat bagaimana gelandang legendaris Inggris, Tom Finney yang kuat di kaki kanan bermain sebagai sayap kiri. Lagi pula bukankah dua pemain kenamaan Arsenal, Marc Overmars dan Robert Pires sama-sama menempati sayap kiri meskipun kaki utama mereka adalah kaki kanan?

Tidak hanya kesempatan mencetak gol lebih tinggi dari inverted winger yang menjadi keuntungan, tapi juga jenis peluang lain yang tercipta. Penonton sepak bola pasti tahu bahwa umpan silang dari sisi kanan yang dilepaskan dengan kaki kiri setelah sang pengumpan memutar badannya berlawanan dengan gawang jauh lebih berbahaya dari umpan silang biasa dari kanan yang dilepaskan dengan kaki kanan.

Inverted winger bisa secara konstan melepaskan umpan jenis ini. Berlawanan dengan umpan silang biasa yang sejajar atau menjauhi gawang, umpan silang inverted winger mengarah langsung ke gawang dan hanya membutuhkan sedikit sentuhan untuk berbelok arah.

Keuntungan lain dari inverted winger adalah kemungkinan kerjasama yang efektif dengan fullback untuk membangun serangan. Messi, striker berkaki kidal tapi acap bermain di sayap kanan sehingga membuatnya terlihat seperti inverted winger, selalu memotong ke sisi dalam sehingga membuka ruang diagonal untuk Dani Alves yang overlapping dari belakang. Tak terhitung berapa kali Barcelona melakukan ini. Demikian juga dengan Pires dan Ashley Cole dulu di Arsenal atau Young dan Patrice Evra awal musim ini di Manchester United.

Lalu bagaimanakah cara menghentikan inverted winger? Sebenarnya sederhana, dengan menugaskaninverted fullback untuk menjaganya. Jonathan Wilson memakai contoh bagaimana Rafa Benitez di Liverpool sukses menugaskan Alvaro Arbeloa mematikan Messi.

Taktik ini bekerja dengan Messi berulang kali gagal menusuk ke dalam dan harus melepaskan umpan. Cara termudah untuk melawan counter-tactic inverted fullback ini adalah dengan mengembalikaninverted winger sebagai sayap tradisional di sisi aslinya, tapi beberapa pemain seperti Ashley Young lebih bagus bermain sebagai inverted winger dibanding sayap biasa.


sumber : http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1282-anatomi-sepak-bola-inverted-winger.html

Anatomi Sepak Bola: Krusialnya Peran Fullback Modern


Saat Anda menengok skuad Brazil pada kurun waktu pertengahan dekade 1990-an sampai pertengahan dekade 2000-an, hal pertama yang akan mencolok mata Anda adalah berlimpahnya talenta-talenta luar biasa di lini tengah dan depan: Ronaldo, Rivaldo, Bebeto, Romario, Ronaldinho – hanya untuk menyebut beberapa nama. 
 
Jika tim Brazil adalah sebuah film Hollywood, maka para aktor di dalamnya adalah kumpulan peraih Academy Awards. Tapi di balik tumpukan bakat sensasional itu, ada dua nama lain yang tak kalah fantastisnya dan gaya permainan mereka mengubah paradigma akan posisi yang mereka tempati: Cafu dan Roberto Carlos.
 
Menyebut Cafu dan Roberto Carlos sebagai pemain bertahan adalah sebuah pengkhianatan terhadap permainan luar biasa yang mereka tunjukkan selama bertahun-tahun bagi Selecao. 
 
Jika para fullback lain lazimnya ditempatkan sejajar dengan dua bek tengah lainnya, maka setting default Cafu dan Roberto Carlos adalah berdiri di antara bek tengah dan gelandang. Bahkan tak jarang Roberto Carlos siaga di sisi kiri tepat di tengah lapangan sekaligus menjadikannya sebagai sebuahpseudo-winger yang mendorong sayap kiri aslinya bermain ke tengah.
 
Karakter permainan keduanya sangat mudah dicirikan. Mereka gemar melakukan overlap, naik jauh hingga ke wilayah permainan lawan untuk mengecoh fullback lawan yang sibuk mengawal sayap mereka. 
 
Sama seperti Fernando Torres dewasa ini, striker yang tidak gemar mencetak gol, Cafu dan Roberto Carlos pun tidak dikenal sebagai bek yang gemar bertahan. Mereka meredefinisi posisi fullbacksebagai salah satu posisi krusial dalam permainan yang bisa menentukan kalah menangnya sebuah tim.
 
Selama bertahun-tahun, posisi fullback dianggap sebagai anak tiri dalam tim sepak bola. Posisi ini biasanya diberikan pada pemain yang tidak cukup kuat untuk menjadi bek tengah, tidak cukup kreatif untuk menjadi gelandang, dan tidak cukup cepat untuk menjadi pemain sayap. Posisi fullbackdiberikan pada pemain yang tidak bisa bermain di posisi lain karena keterbatasan mereka.
 
Perlu dicatat bahwa fullback adalah terminologi yang diberikan untuk posisi kedua bek terluar dalam formasi empat pemain bertahan. Sejarah istilah ini bisa ditelusuri ke zaman formasi 2-3-5 dan W-M dulu. Fullback dibedakan dengan wing back karena istilah wing back digunakan untuk menyebut kedua bek sayap dalam formasi yang menggunakan tiga bek tengah seperti skema 3-5-2 atau 5-3-2.
 
Kenapa seorang fullback bisa menjadi krusial dalam permainan dan sebegitu berbahayanya dalam membantu serangan seperti yang ditunjukkan Cafu dan Roberto Carlos adalah karena dari semua pemain di lapangan, satu-satunya posisi yang tidak menerima tekanan dalam status quo dan memiliki ruang kosong di depannya untuk dieksploitasi adalah fullback
 
Para gelandang saling mematikan satu sama lain, begitu juga dengan pemain sayap yang langsung bentrok di kedua sisi. Sedangkan fullback, sampai ada pemain sayap yang melakukan penetrasi ke wilayah mereka, mereka tidak memiliki siapa-siapa untuk dikawal. Dengan demikian mereka memiliki kebebasan dan kesempatan untuk merangsek masuk ke depan.
 
Dalam era sepak bola modern, kemampuan menyerang seorang fullback dituntut untuk sama bagusnya dengan kemampuan bertahannya, bahkan lebih. Contoh paling ekstrim adalah Dani Alves, pewaris takhta Cafu dan Roberto Carlos yang sepertinya gatal-gatal jika harus terpaku di wilayah permainannya sendiri. 
 
Meski kesadaran akan krusialnya peran fullback baru disadari secara luas dalam dua dekade terakhir, sejak zaman libero dulu biasanya satu tim memiliki fullback yang berorientasi menyerang. Saya menengok skema permainan Inter Milan di bawah Hellenio Herrera, mahaguru Catenaccio, dan mendapati bahwa pemain yang mendapat lisensi untuk maju menyerang adalah Giacinto Fachetti, seorang bek kiri. 
 
Demikian juga dengan Jerman 1974 ketika di sebelah Franz Beckenbauer terdapat Paul Breitner yang pola pergerakannya sama ekstrimnya dengan pandangan politik sosialisnya.
 
Seorang fullback modern dituntut bisa menyerang dengan eksplosif, tapi seorang fullback yang juga bisa bertahan dengan baik tetap mendapat apresiasi tinggi. Inilah mengapa Ashley Cole dianggap salah satu yang terbaik karena bisa menjalankan kedua tugas sama baiknya. 
 
Saat masih di Manchester United dulu, Cristiano Ronaldo selalu mengalami waktu yang sulit setiap kali ia berjumpa Cole. Karena jika seorang fullback absen di posnya, maka pemain sayap lawan bisa langsung meneror kotak penalti timnya. Dani Alves beruntung bermain di tim yang penguasaan bolanya superior seperti Barcelona sehingga ia tak perlu terlalu pusingnya memikirkan tanggung jawab bertahan.
 
Karena kecepatan dan akselerasinya, fullback sering kali diasosiasikan memiliki postur yang relatif lebih kecil dibanding pemain bertahan lainnya. Tapi dalam beberapa musim terakhir muncul trenfullback yang berpostur lebih besar dan mereposisi bek tengah menjadi fullback biasanya adalah pemicunya. 
 
Branislav Ivanovic di Chelsea yang bertinggi 188 cm awalnya diplot sebagai bek tengah, tapi kemudian ia digeser ke kanan dan bermain baik di posisi tersebut. Demikian juga dengan Micah Richards di Manchester City. 
 
Mampu bermain di tengah, ia lebih digdaya sebagai bek kanan. Sebenarnya kalau mau diteliti, Fachetti yang bagian dari Grande Inter medio 60-an itu pun bertinggi 191 cm. Sulit membayangkan ada pemain berpostur demikian menjadi fullback sekarang ini.
 
Seiring meningkatnya peran mereka, tak heran jika taksiran harga terhadap talenta pemain fullback pun meningkat. Menggelitik, karena berdekade lalu kehadiran seorang fullback hanya dianggap untuk melengkapi angka 11 pemain dalam 1 tim. 
 
Para manajer sepakbola berparadigma tiga dasawarsa silam pasti tersedak mendengar bagaimana Real Madrid membayar hampir 30 juta Euro untuk seorang fullback seperti Fabio Coentrao.

Anatomi Sepak Bola: Playmaker, Trequartista, Regista


Semua orang membicarakan Neymar, remaja berjambul ayam dengan sihir di kedua kakinya. Ketika Santos turun menghadapi Kashiwa Reysol di ajang FIFA Club World Championship, Neymar membuktikan bahwa reputasinya sebagai the next big thing di dunia sepak bola bukan sekadar isapan jempol. Neymar memang tampil memukau pada pertandingan itu, tapi yang lebih membuat saya penasaran sebenarnya adalah rekan setimnya yang berposisi lebih dalam, Ganso.

Jika Neymar penyerang yang menggiring bola layaknya sirkus, maka Ganso playmaker yang berposisi lebih ke dalam. Reputasi Ganso tak kalah menterengnya dengan Neymar, tapi saya selalu penasaran jenisplaymaker seperti apakah Ganso.
 
Ada playmaker lainnya selain Ganso. Francesco Totti, Juan Roman Riquelme, Andrea Pirlo, Xavi, Luka Modric, Xabi Alonso, semuanya tepat untuk dilabeli sebagaiplaymaker, tapi hanya mereka yang tidak pernah menonton sepak bola sajalah yang bisa bilang mereka semua setipe.
 
Setiap negara mempunyai kultur sepak bolanya sendiri, tidak hanya dalam aspek fans, tapi juga aspek taktis. Italia, negara yang secara tradisional memakai playmaker dalam skema permainannya membagi posisi ini dalam dua tipe. 
 
Yang pertama adalah playmaker yang berposisi di lubang di belakang lini serang. Kita mengenalnya dengan trequartista (secara harafiah berarti tiga-perempat lapangan). Pemain yang menempati posisi ini bertindak sebagai otak serangan tim yang selain menyuplai bola ke penjuru lapangan, juga mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri. 
 
Pemain jenis ini adalah classic number 10, jiwa dan roh permainan. Setiap bola ada di kakinya kita mengharapkan sesuatu yang luar biasa terjadi. Seiring populernya istilah trequartista, kita mengenal bagaimana Francesco Totti di AS Roma identik dengan posisi itu.
 
Jenis playmaker yang kedua adalah pengatur serangan yang ditempatkan jauh di dalam, cenderung di lapisan terdalam lini tengah. Di Italia posisi ini disebut regista, kita di Indonesia mengenalnya dengandeep-lying playmaker. Sepertinya halnya trequartista identik dengan Totti, maka tak ada ikon registayang lebih populer daripada Andrea Pirlo. 
 
Sepak bola Italia sedang statis secara taktik sampai ketika Carlo Ancelotti menempatkan Pirlo duduk menjadi dirigen di belakang garis gelandang. Pirlo, gelandang muda brilian yang tampak gagal memenuhi potensinya dan baru saja menjalani masa pinjaman di Brescia, akhirnya menemukan posisi yang pas dan akan dikenang sebagai salah satu gelandang terbaik Italia.
 
Di Argentina, playmaker dipandang dengan perspektif yang lebih mono-dimensional. Di negara Tango tersebut, playmaker disebut dengan istilah Enganche (hook/pengait) yang bertugas menjahit lini tengah dengan lini depan. 
 
Sejarah mencatat beberapa nama yang lekat dengan posisi ini seperti Ermindo Onega dan Ricardo Bochini, tapi penggila sepak bola yang lebih muda seperti saya mungkin lebih familiar dengan Juan Roman Riquelme, yang hidup dan matinya hanya sebagai enganche.
 
Berbeda dengan di Italia ketika playmaker lebih mempunyai peran taktis, di Argentina enganche lebih dianggap sebagai seniman dengan bola di kakinya. Ia bebas melakukan apa pun untuk mendikte permainan timnya, termasuk memperlambat tempo permainan. 
 
Menurut jurnalis sepak bola Argentina, Hugo Asch, ”enganche adalah seorang penyair, seniman, yang gundah jiwanya dan sulit dimengerti orang banyak. Ia kerap dianggap gila oleh orang di sekelilingnya, tapi adalah sesuatu yang tidak benar jika ia berpikir waras.”
 
Anda tahu momen-momen saat playmaker klasik seperti Riquelme menunda tempo permainan dan tampak diam dengan bola di kakinya? Sesungguhnya itu adalah proses kreatif bagi seorang seniman untuk menghasilkan mahakarya. 
 
Kolumnis sepak bola lain, Ezequiel Fernandes Moores meminjam istilah musik untuk menggambarkan, ”dalam pause tidak ada musik. Hening. Tapi pause berguna untuk menciptakan musik”. 
 
Orang Argentina menyebut momen ketika seorang playmaker berpikir dengan ”La Pausa”. Sebagai seorang pemain yang hampir tidak mempunyai tanggung jawab untuk bertahan dan bebas bergerak ke mana saja ia mau, seorang playmaker jenis ini mempunyai lisensi untuk berkreasi apa saja, tapi sayangnya di lain sisi, tanpa bola di kakinya ia menjadi beban. Pasalnya kerap kali alur bola menjadi sentralistik ke arahnya, maka tidak sulit untuk mematikan permainan playmaker gaya enganche ini seiring meningkatnya kesadaran memaksimalkan peran gelandang bertahan.
 
Evolusi taktik modern menjadikan sepak bola lebih mekanis, tapi kebutuhan akan pengatur serangan yang kreatif tetap ada sehingga membutuhkan beberapa penyesuaian.
 
Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, Luka Modric, Deco, untuk menyebut sebagian kecil, adalah jenis-jenis playmaker modern yang selain dituntut untuk berkreasi juga mempunyai peran defensif. Mereka semua bebas bergerak ke mana saja dengan bola, tapi saat tidak memegang bola, mereka berkewajiban mengikuti arah diagram pertahanan yang diarahkan pelatih. 
 
Tapi tak semuanya bisa dilihat dengan kacamata hitam putih karena saking dinamisnya sepak bola modern, mustahil untuk melabeli seorang pemain terhadap sebuah posisi secara sakelijk.
 
Ambil contoh Barcelona, tim dengan tumpukan gelandang brilian. Yang manakah dari antara semua pemain mereka yang bisa disebut playmaker? Orang akan dengan cepat menyebut Xavi. Tapi lalu timbul pertanyaan, bagaimanakah peran Andres Iniesta? Apakah ia lebih tidak seorang kreator dibanding Xavi? Lalu bagaimana dengan Lionel Messi yang, selain punya dribble dari planet lain, juga punya visi permainan dan umpan terukur untuk membuka ruang? 
 
Kembali ke pertanyaan awal, jenis playmaker yang manakah Ganso? Ia jelas memiliki visi lapangan dan kemampuan passing di atas rata-rata. Sebagai orang Brazil, tak mengejutkan melihat ia punya footworkdan teknik menggiring bola yang hebat, bahkan untuk ukuran playmaker
 
Tapi yang mengejutkan, bermain di klub negaranya ketika bertahan dipandang sebagai hal sekunder, Ganso beberapa kali terlibat pergelutan di lini belakang dan meyakinkan saya bahwa seberapa pun tingginya teknik individu seorang playmaker, sedikit sekali tempat yang tersedia bagi mereka yang tidak dibebani kemampuan bertahan.
 

Ashley Cole, Pemain Pertama Dengan Tujuh Gelar Piala FA


Ashley Cole (Chelsea). (AFP)
Ashley Cole (Chelsea). (AFP)



Lima pemain lain yang sukses menjuarai Piala FA dalam lima kesempatan lebih melakukannya pada abad ke-19.   

Kemenangan Chelsea atas Liverpool di final Piala FA, Sabtu (5/5),  ternyata memiliki arti yang berbeda bagi Ashley Cole. Bek kiri berusia 31 tahun ini menjadi pemain pertama yang sukses menjuarai Piala FA dalam tujuh kesempatan.

Gelar Piala FA 2011/12 bersama Chelsea menjadi gelar keempat bek Timnas Inggris ini bersama The Blues. Sebelumnya Cole berhasil memenangkannya bersama Arsenal dalam tiga kesempatan (2001/02, 2002/03, 2004/05).

Tak hanya berstatus sebagai pemain dengan medali Piala FA terbanyak, Cole tercatat sebagai satu-satunya pemain yang meraih gelar Piala FA lebih dari lima kali di abad ke-21. 

Lima pemain lain yang sukses menjuarai Piala FA dalam lima kesempatan lebih melakukannya pada abad ke-19.   

Pemain dengan gelar Piala FA terbanyak:

7 gelar – Ashley Cole: Arsenal (2001/2, 2002/03, 2004/05), Chelsea (2006/07, 2008/09, 2009/10, 2011/12).

5 gelar – Charles Wollaston: The Wanderers (1871/72, 1872/73, 1875/76, 1876/77, 1877/78).

5 gelar – Arthur Kinnaird: The Wanderers (1872/73, 1876/77, 1877/78), Old Etonians (1878/799, 1881/82).

5 gelar – James Forrest: Blackburn Rovers (1883/84, 1884/85, 1885/86, 1889/90, 1890/91).


sumber : http://www.beritasatu.com/inggris/46461-ashley-cole-pemain-pertama-dengan-tujuh-gelar-piala-fa.html



Sabtu, 30 Juli 2011

Indonesia Bersama Iran, Qatar, dan Bahrain di Pra Piala Dunia Zona Asia Babak ke 3

Grup A
1. China
2. Jordania
3. Iraq
4. Singapura

Grup B
1. Korea Republik
2. U.E.A
3. Libanon
4. Kuwait

Grup C
1. Jepang
2. Korea Utara
3. Uzbekistan
4. Syira

Grup D
1. Australia
2. Arab
3. Thailand
4. Oman

GRUP E
1. Iran
2. Qatar
3. INDONESIA
4. Bahrain
Semoga Indonesia mampu melaju ke round berikutnya .

Minggu, 24 Juli 2011

Alasan Liga Inggris Musim Depan Akan Lebih Sengit

Alasan Mengapa Liga Inggris Musim Depan Akan Lebih Menarik

Biasanya perebutan juara hanya melibatkan the big four, tapi musim lalu perburuan itu meluas. Tak ada lagi nama big four Manchester United, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool saja. Karena Tottenham Hotspur dan Manchester City juga punya peluang yang sama untuk keluar sebagai juara.
Musim lalu adalah salah satu musim terketat sepanjang sejarah Premier League (sejak berganti format dari tahun 92/92-sekarang). Manchester United baru bisa menentukan diri menjadi juara, di dua pertandingan terakhir mereka.

Kita lihat musim lalu, siapa sangka city mampu merebut tempat ke 3 dari arsenal. Atas hasil jerih payahnya tersebut, pasukan Roberto Mancini pun akan berlaga untuk pertama kalinya di Liga Champion musim depan.

Ternyata baru pertama kali ikut Liga Champions? hehe ..


Berikut adalah alasan megapa Liga Inggris musim depan akan lebih menarik dari musim-musim sebelumnya:
1. Kekuatan Yang Cukup Merata 
Tak adanya satu tim yang benar-benar dominan di Liga Inggris musim lalu, akan membuat persaingan menjadi semakin seru. Ini bisa jadi semacam tolak ukur, bahwa kekuatan yang dimiliki masing-masing tim kini sudah mulai berimbang satu sama lain.
Meski mampu menjuarai Premier League dan memecahkan rekor gelar terbanyak Liga Inggris, United tak menjalani musim dengan cukup baik sebenarnya pada awalnya. Siapa yang menyangka bahwa tim yang banyak menjalani hasil imbang di awa-awal musim ini, yang akhirnya keluar sebagai juara?
Manchester United, Chelsea, Arsenal, Man. City, Liverpool, Tottenham  punya peluang yang sama untuk keluar sebagai juara.

2.  Adanya Promosi Besar-Besaran 
Premier League adalah salah satu liga tersukses di dunia, karena di sana tak hanya menampilkan pertandingan-pertandingan yang berimbang dan cukup menarik. Dan bagaimana caranya mengajak orang-orang berbondong-bondong mulai melirik pertandingan? Tentu saja dengan melakukan banyak kegiatan promo.
Semakin gencar sebuah klub mempromosikan diri, akan membuat klub tersebut semakin diingat oleh para pendukungnya. Dan salah satu waktu yang tepat untuk berpromo adalah seperti pada saat ini, yaitu saat menjani tur pra musim mereka di saat rehat jelang pergantian musim yang baru.

3. Tempat Bertarungnya Para Pelatih Hebat
Pelatih adalah faktor penting kesuksesan sebuah tim, oleh karena itu pelatih juga berperan andil pada terbentuknya karakter permainan sebuah tim. Di Premier League musim depan, persaingan bukan hanya dari faktor komposisi pemain, melainkan juga diantara para pelatih.
Nama Sir Alex Ferguson adalah jaminan mutu, pelatih asal Skotlandia itu mampu membawa United menjadi salah satu tim tersukses di Inggris dan Eropa juga tentunya. Di musim yang baru nanti, Ferguson akan ditantang oleh pelatih hebat, yaitu para pelatih tim rivalnya.
Kenny Dalglish dan Andre Villas-Boas akan mencoba mematahkan dominasi Fergie musim depan, dari segi prestasi tentu saja keduanya tak perlu diragukan lagi. Dalglish yang baru masuk di pertengahan musim, tampaknya sudah mulai menemukan cara  membangkitkan The Reds yang selama ini yang ‘tertidur pulas’. Sedangkan Villas-Boas, yang baru saja didatangkan oleh Porto di musim panas karena memenangkan treble, akan memulai debutnya di Premier League bulan depan. Selain kedua pelatih tadi, tentu saja nama besar Arsene Wenger, Harry Redknapp, dan Roberto Mancini tentu saja juga patut diwaspadai.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes